Minggu, 19 Maret 2017

Geger Perang Saudara Bitcoin Core Vs Bitcoin Unlimited, Siapa Menang?


Salah satu topik yang menjadi perdebatan paling panas saat ini adalah apakah pengguna harus mendukung Bitcoin Core atau Bitcoin Unlimited. Saat Bitcoin Unlimited disokong oleh khalayak pertambangan, Bitoin Core menjadi solusi yang lebih disukai oleh provider dan perusahaan pertukaran. Pilihan sulit memang, meskipun kedua solusi mengaku bekerja dengan tujuan akhir yang sama. Mari kita lihat apa yang mereka berdua tawarkan dan bagaimana perbedaannya seperti yang dikutip dari The Merkle, Minggu, 19 Agustus 2017.
 

2. Bitcoin Unlimited

Ketika pertama kali diumumkan, proyek ini memperoleh dukungan signifikan dari beberapa pemain utama dalam industri Bitcoin. Roger Ver, Jihan Wu, dan beberapa orang lainnya merasa Bitcoin Core tidak mengambil langkah yang diperlukan untuk meringankan skala jaringan Bitcoin. Bitcoin Unlimited mengusulkan kenaikan ukuran balok atau block seize yang rendah, meski rincian spesifik ditentukan sendiri oleh pengguna jaringan.

Bitcoin Unlimited dibangun berdasarkan kegagalan yang terjadi pada Bitcoin XT dan Bitcoin Classic di masa lalu. Bitcoin Unlimited melakukan hal-hal yang sangat berbeda dari Bitcoin Core seperti
memberikan pilihan penambang untuk mengkonfigurasi ukuran validasi balok mereka. Ukuran default masih satu megabita, namun ukuran generasi maksimum sepenuhnya disesuaikan. Jaringan Node memiliki pilihan yang sama dalam menentukan dan memvalidasi blok mereka dan seberapa besar mereka dapat.

Bitcoin terbatas telah memperoleh dukungan besar dari para penambang, khususnya penambang yang menambang Bitcoin secara bersama-bersama atau mining pool (semacam serikat penambang). Namun, komunitas penambang hanyalah bagian dari jaringan secara keseluruhan. Penyedia layanan, pertukaran, dan operator dompet tidak terlalu tertarik dengan usulan Bitcoin Unlimited. Tanpa dukungan kritis, kemungkinan keberhasilan Bitcoin Uliited sangat tipis.


1. Bitcoin Core

Selama sembilan tahun terakhir, Bitcoin Core selalu menjadi pilihan utama dalam pengembangan jaringan. Meski pengaruh perusahaan startup Blockstream telah berkembang luas, perusahaan itu juga bertanggung jawab untuk mendanai sebagian besar kemajuan pengembangan Bitcoin. Kendati ada pemberian insentif ini, pengaruh Blockstream tetap agak terbatas. Namun, justru beberapa orang sangat merasa sebaliknya.

Situasi tersebut menjadikan
Bitcoin Core mencari solusi skalabilitas, yang disajikan dalam bentuk SegWit. Para pendukung Bitcoin Unlimited merasa SegWit tidak akan memberikan kapasitas skala yang mumpuni. Belakangan hal itu dijadikan alasan bagi mereka untuk mengembangkan solusi sendiri. Segregated Witness juga akan meletakkan dasar untuk Lightning Network, meski konsep ini masih membutuhkan banyak usaha. Tujuannya untuk hard-code batas ukuran blok ke dalam jaringan bitcoin, ketimbang memberi pemilik node dan penambang kebebasan pilihan mengenai solusi ini.

Namun, para pendukung Bitcoin Unlimited merasakan block size akan tetap hardcode pada ukuran 1 MB-nya. Meskipun hal ini tidak selalu menjadi masalah dalam transaksi, persoalan ini harus diselesaikan oleh pengembang Bitcoin Core. Belum ada "roadmap" resmi terkait solusi ini, tapi hampir setiap penyedia layanan populer merasa SegWit adalah cara yang tepat sebagai jalan ke luar, daripada menggunakan usulan Bitcoin Unlimited.

Penulis: Admin

Sabtu, 18 Maret 2017

Situs Bitcoin.com Diserang DDoS, Gara-gara Bersekutu dengan Bictoin Unlimited?

Serangan skala besar dilakukan oleh DDoS terhadap laman Bitcoin.com dan subdomainnya sejak beberapa hari belakangan ini. Srangan itu semakin meningkat selama 48 jam terakhir, dalam upaya menargetkan pihak pendukung "balok besar" di tengah perselisihan yang sedang berlangsung dalam komunitas Bitcoin tentang bagaimana skalabilitas Bitcoin.

Laman News.bitcoin.com, Sabtu malam, 18 Maret 2017, mengungkapkan, ketika Bitcoin.com meluncurkan kembali situs pembaruannya pada 2015, peristiwa itu mengejutkan di tengah perdebatan tentang ukuran balok-balok (block size) di Bitcoin, yang juga disebut banyak orang sebagai "perang saudara" dalam komunitas Bitcoin.

DDos Attack atau Distributed-Denial-of-Service attack adalah sebuah usaha serangan untuk membuat komputer atau server tidak bisa bekerja dengan baik. Serangan itu dapat menyebabkan kinerja server atau komputer menjadi sangat lambat. Hal itu dikarenakan ada ribuan “zombie” (spams) yang menyerang sistem secara keroyokan.

Bukan rahasia lagi bahwa selama ini, Bitcoin.com memposisikan diri sebagai pendukung solusi skalabilitas on-chain, yang diusulkan pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto. Sejak itu, Bitcoin.com bekerja sama dengan pakar dan para pemimpin industri dalam menyampaikan berita, informasi tanpa sensor, dan alat-alat untuk komunitas Bitcoin.

Bahkan, baru-baru ini Bitcoin.com membuka Bitcoin.com Mining Pool, yang menambang dengan menggandeng Bitcoin Unlimited sebagai klien. Mereka membayar 110 persen dari block reward dengan biaya sembilan persen. "Karena inilah, Bitcoin.com diduga menjadi target serangan dari individu dan kelompok yang tidak memiliki isi yang sama," kata laman Bitcoin.com.

Sepanjang pekan ini, situs bersama mining pool atau serikat penambangan yang baru, serta forum bebas sensor semuanya menjadi target penyerang dalam upaya mematikan situs sekaligus menghentikan aliran informasi tanpa sensor. Apalagi, sensor ini sendiri menjadi poin utama dalam perselisihan di komunitas Bitcoin.

Saking beratnya serangan DDoS terhadap domain dan subdomain milik Bitcoin.com, forum dan serikat pertambangan sempat vakum sejenak. Bitcoin.com telah menggandeng Cloudflare, perusahaan keamanan Internet, untuk membantu mengurangi masalah namun beberapa pengguna mungkin masih mengalami problem akses.

Penulis: Admin
Foto: News.bitcoin.com

Jangan Lewatkan 

Jumat, 17 Maret 2017

Terungkap, Alasan Harga Bitcoin Turun ke US$ 1.160 Dianggap Seksi

Hampir segera setelah penolakan terhadap proposal pengucuran dana di bursa dari si kembar Winklevoss 'Bitcoin ETF, grafik harga Bitcoin justru berlawanan dengan prediksi sebagian besar analis. Bukannya turun, harga Bitcoin cepat pulih dan melonjak kembali ke US$ 1.250. Namun, pada 16 Maret 2017, harga Bitcoin terpuruk di US$ 1.160.

Wartawan Joseph Young dalam laman Cointelegraph, Jumat 17 Maret 2017, menulis ketika kenaikan harga Bitcoin dianggap penting bagi setiap orang di dalam jaringan dan komunitas, muncul pertimbangan lain terkait status jaringan Bitcoin saat ini. “Itu upaya optimal bagi Bitcoin sehingga relatif stabil di level US$ 1,160,” kata Joseph dalam laporannya.

Laman Cointelegraph menyatakan, jika harga Bitcoin terus meningkat--setelah harga pemulihan ketika penolakan Winkelvoss Bitcoin ETF--ke US$ 1.300 sehingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, media arus utama akan mengekspose berita seputar Bitcoin. Walhasil kabar itu menyebabkan kenaikan harga Bitcoin luar biasa dalam jangka pendek.

Bagi investor dan para pedagang yang mempertahankan simpanan Bitcoin untuk keuntungan jangka pendek, situasi tersebut di atas akan ideal. Namun, persoalannya komunitas Bitcoin saat ini tengah didera masalah skalabilitas serius untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi kemacetan dalam transaksi di sistem jaringan Blockchain.


Biaya transaksi pengiriman Bitcoin tumbuh secara signifikan selama beberapa bulan terakhir dan biaya rata-rata per transaksi telah meningkat. Bahkan, perusahaan pertukaran terkemuka, Coinbase, mengumumkan mereka tidak akan menalangi lagi biaya transaksi Bitcoin untuk pengguna karena alasan itu. Selama ini biaya transaksi di Coinbase digratiskan.

"Kami akan menghentikan membayar biaya transaksi jaringan untuk transaksi di Blockchain mulai 21 Maret 2017. Biaya transaksi jaringan tersebut tidak dinikmati oleh Coinbase, biaya itu dibayarkan kepada penambang jaringan Bitcoin dan Ethereum,” kata Ankur Nandwani, Manajer Produk Coinbase dalam pernyataannya.

Nandwani menegaskan, sejak awal perusahaan tersebut telah membayarkan biaya jaringan atas nama pelanggan mereka kepada penambang untuk membantu mendukung pertumbuhan jaringan Bitcoin dan Ethereum. “Kami sekarang memiliki lebih dari enam juta pengguna di seluruh dunia, dan baya ini menjadi faktor yang signifikan,” ucapnya.

Selain itu, Bitcoin tidak memiliki solusi skalabilitas jaringan seperti Lightning Network yang memungkinkan mikrotransaksi dan terbuka untuk aplikasi generasi baru. Dengan solusi itu, platform dan aplikasi akan dapat melakukan transaksi dengan sangat murah, cepat dan aman dengan mudah, yang memungkinkan layanan berbasis Bitcoin berkembang lebih luas.

Mayoritas komunitas mulai mendukung Segregated Witness (SegWit) ketimbang Bitcoin Unlimited. Sebabnya, perangkat lunak dalam Bitcoin Unlimited sempat terjangkit bug (kutu pengganggu) internal. Kesalahan Bitcoin Unlimited itu menyebabkan kemacetan enam jam dalam proses penambangan dan menutup hampir 500 node seketika.

Menurut analis dan pengamat Bitcoin, Andreas Antonopoulos, bug yang dimiliki Bitcoin Unlimited baru-baru ini bisa menyebabkan jutaan dolar kerugian jika komunitas melakukan fork. “Kali ini ada sedikit dampak ekonominya. Selama melakukan fork, kerusakan akan mencapai jutaan dolar. Perdebatan memang penting. Jutaan dolar juga penting.”

Sementara pengembang, penambang, dan anggota komunitas sedang membangun konsensus bagaimana perangkat lunak dan mencari solusi untuk mengadopsi skalabilitas jaringan Bitcoin yang benar, hati-hati, dan efisien, maka untuk kepentingan terbaik bagi komunitas Bitcoin secara keseluruhan adalah mempertahankan harga stabil di wilayah US$ 1,160.

Mengapa penting? Dalam kalimat penutupnya, laman Coinelegraph menulis, kestabilan harga Bitcoin di level US$ 1.160 akan mengurangi tekanan pada jaringan transaksi dalam sistem Blockchain. Sekaligus hal itu bakal memberikan jangka waktu yang lebih lama bagi komunitas dan pasar untuk memutuskan solusi yang layak bagi pekembangan Bitcoin.

Penulis: Admin

Kamis, 16 Maret 2017

Tembok Bitcoin Runtuh Jumat Ini, Harga Tenggelam 10 Persen ke US$ 1.132


Harga digital mata uang melorot tajam di posisi US$ 1.132,45 pada Kamis malam waktu Amerika Serikat, atau Jumat pagi, 17 Maret 2017, waktu Indonesia. Harga Bitcoin sesuai catatan CoinDesk Bitcoin Price Index (BPI) menunjukkan data terendah harian dengan penurunan lebih dari 10 persen ketimbang harga pembukaan Bitcoin di US$ 1.259,60.


Penurunan tajam itu—yang menjadi penuruan intraday terbesar sejak otoritas bursa efek Amerika Serikat (SEC0 menolak proposal pengucuran dana yang diusulkan Winklevoss Bitcoin ETF pada 10 Maret—berbanding terbalik dengan karakter harga Bitcoin selama beberapa sesi terakhir ketika berfluktuasi di antara rentang US$ 1.225 hingga US$ 1.260.

Setelah bergerak dalam rentang harga yang cukup ketat sejak awal perdagangan Senin, Bitcoin jatuh ke posisi US$ 1.200 pada pukul 19.00, dan kemudian terbenam lagi ke US$ 1.150 pada pukul 21.00 waktu Amerika. Setelah penuruan yang signifikan ini, harga Bitcoin pulih sedikit mencapai US$ 1.171,47 saat laporan ini diunggah.

Penurunan tajam harian tersebut berlangsung di tengah volume perdagangan yang tinggi. Pelaku pasar memperdagangkan masing-masing sekitar 48.000, 30.000 dan 18.000 melalui pertukaran Bitfinex, Kraken, dan Coinbase dalam 24 jam pada 22.00, dibandingkan dengan rata-rata harian sekitar 33.700, 19.000 dan 12.000 selama tujuh hari terakhir.

Penurunan tajam hari ini--dan rangebound perdagangan yang muncul di sesi terakhir—terjadi saat Bitcoin terus-menerus menghadapi tantangan teknis di dalam komunitasnya sendiri. Perdebatan penskalaan, khususnya, telah menarik perhatian yang signifikan, saat para pemain dalam industri ini tak mampu mengambil konsensus setelah dua tahun perdebatan.

Akibatnya, kebutuhan yang dirasakan untuk hard fork (atau pemisahan untuk Bitcoin Blockchain dan token) telah berkembang. Peristiwa semacam itu bisa menciptakan balok-balok yang jauh lebih besar dengan kapasitas yang lebih besar secara signifikan. Analis pasar telah memperingatkan, peristiwa tersebut bisa menurunkan harga Bitcoin.

Penulis: Admin
Foto: Pixabay

Jangan Lewatkan